Page 13 - Muslihat Kapitalis Global
P. 13
batasan terhadap Pengendalian Tembakau atau FCTC yang
diprakarsai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terbukti juga dibiayai
oleh Perusahaan farmasi Multinasional.
Tokoh utama di balik gerakan ini adalah Michael Ruben
Bloomberg. Dia adalah wali kota New York dan pemilik jaringan
bisnis Bloomberg, yang telah berperan secara individu dan melalui
lembaganya, sebagai donatur dan supervisi kampanye anti-tembakau
di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Dari jejak rekamnya, banyak
irisan-irisan kepentingan yang berhubungan secara rumit dan
terkesan paradoks antara kepentingan pemodal besar dunia dengan
kampanye anti-tembakau disokong oleh Bloomberg. Hal ini terutama
disebabkan oleh atmosfer tradisi dan budaya ekonomi kapitalistis
ala Amerika yang secara piawai bisa meleburkan perilaku kompetitif
atau konflik kepentingan di antara para pelaku usaha yang berbeda.
Akan tetapi, pada akhirnya terlihat banyak kepentingan di
antara industri-industri berbeda yang terasosiasi ke dalam suatu
sindikasi kepentingan atas bisnis tembakau dunia yang sekali lagi,
berujung pada akumulasi keuntungan modal sebesar-besarnya. Dan
Bloomberg tampaknya sadar betul, untuk tidak mengatakan telah
“bersedia” menjadi lokomotif “nilai-nilai” yang menarik gerbong-
gerbong kekuasaan modal Amerika. Tembakau sebagai bisnis besar
kemudian dijadikan sebagai salah satu obyek permainan “nilai-nilai”
itu dalam sebuah rel panjang perang anti-tembakau.
Lalu yang tampak dari semua gerakan anti-tembakau itu adalah
sebuah gejala anomali. Di satu sisi, tembakau yang semula memiliki
hubungan kepentingan dengan industri farmasi dan telah menjadi
bagian dari sistem rezim kesehatan modern sebagai peran protagonis,
ditempatkan sebagai komoditas yang sama sekali berbahaya. Di sisi
yang lain, di tengah-tengah ingar-bingar kampanye anti-tembakau
yang digerakkan industri besar farmasi asing, justru muncul indikasi,
perusahaan-perusahaan transnasional rokok asing melakukan
ekspansi pasar tembakau secara mengejutkan.
xi
diprakarsai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terbukti juga dibiayai
oleh Perusahaan farmasi Multinasional.
Tokoh utama di balik gerakan ini adalah Michael Ruben
Bloomberg. Dia adalah wali kota New York dan pemilik jaringan
bisnis Bloomberg, yang telah berperan secara individu dan melalui
lembaganya, sebagai donatur dan supervisi kampanye anti-tembakau
di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Dari jejak rekamnya, banyak
irisan-irisan kepentingan yang berhubungan secara rumit dan
terkesan paradoks antara kepentingan pemodal besar dunia dengan
kampanye anti-tembakau disokong oleh Bloomberg. Hal ini terutama
disebabkan oleh atmosfer tradisi dan budaya ekonomi kapitalistis
ala Amerika yang secara piawai bisa meleburkan perilaku kompetitif
atau konflik kepentingan di antara para pelaku usaha yang berbeda.
Akan tetapi, pada akhirnya terlihat banyak kepentingan di
antara industri-industri berbeda yang terasosiasi ke dalam suatu
sindikasi kepentingan atas bisnis tembakau dunia yang sekali lagi,
berujung pada akumulasi keuntungan modal sebesar-besarnya. Dan
Bloomberg tampaknya sadar betul, untuk tidak mengatakan telah
“bersedia” menjadi lokomotif “nilai-nilai” yang menarik gerbong-
gerbong kekuasaan modal Amerika. Tembakau sebagai bisnis besar
kemudian dijadikan sebagai salah satu obyek permainan “nilai-nilai”
itu dalam sebuah rel panjang perang anti-tembakau.
Lalu yang tampak dari semua gerakan anti-tembakau itu adalah
sebuah gejala anomali. Di satu sisi, tembakau yang semula memiliki
hubungan kepentingan dengan industri farmasi dan telah menjadi
bagian dari sistem rezim kesehatan modern sebagai peran protagonis,
ditempatkan sebagai komoditas yang sama sekali berbahaya. Di sisi
yang lain, di tengah-tengah ingar-bingar kampanye anti-tembakau
yang digerakkan industri besar farmasi asing, justru muncul indikasi,
perusahaan-perusahaan transnasional rokok asing melakukan
ekspansi pasar tembakau secara mengejutkan.
xi