Page 8 - Muslihat Kapitalis Global
P. 8
ndar produk internasional terhadap produk olahan tembakau dan
sekaligus berjualan produk Nicotin Replacement Therapy (NRT),
dengan dampak perusahaan-perusahaan rokok lokal menengah dan
kecil ambruk karena tidak sanggup memenuhi ketentuan skema cukai
tinggi tersebut. Bersamaan dengan itu, di sisi lain terbukalah pangsa
pasar tembakau nasional kita sehingga memungkinkan perusahaan-
perusahaan multinasional rokok asing melakukan ekspansi pasar
mereka, baik itu melalui akuisisi maupun merger.
Sedikit kelemahan dari buku ini ialah, riset yang dilakukan
tidak menukik pada kaitan antara konsep filantropis dan konsep
imperialisme dalam wacana imperialisme termutakhir, yakni
“imperialisme berjubah filantropis”. Terlepas dari semua itu, spirit
penelitian dalam membongkar berbagai aspek yang tersembunyi
di balik kampanye anti-rokok yang mengatasnamakan wacana
kesehatan masyarakat patut menjadi pertimbangan kita semua.
Ada kompleksitas persoalan dalam isu tembakau yang tidak
mudah kita reduksi dan sederhanakan dalam logika “hitam-putih”.
Hal penting lainnya ialah bahwa buku ini telah menyumbang suatu
model pembacaan baru tentang gerak-gerik rezim kapitalisme global,
yang tidak hanya bekerja melalui instrumen liberalisasi (deregulasi)
melainkan justru dengan instrumen regulasi. Namun keduanya
ternyata memiliki dampak sama, yaitu terjadinya ekspansi modal dari
negara-negara pusat ke pinggiran dan akumulasi keuntungan dari
negara-negara pinggiran ke pusat.
Jakarta, 17 Februari 2012
DR.Hi.MS.Kaban,SE. M.Si.
vi
sekaligus berjualan produk Nicotin Replacement Therapy (NRT),
dengan dampak perusahaan-perusahaan rokok lokal menengah dan
kecil ambruk karena tidak sanggup memenuhi ketentuan skema cukai
tinggi tersebut. Bersamaan dengan itu, di sisi lain terbukalah pangsa
pasar tembakau nasional kita sehingga memungkinkan perusahaan-
perusahaan multinasional rokok asing melakukan ekspansi pasar
mereka, baik itu melalui akuisisi maupun merger.
Sedikit kelemahan dari buku ini ialah, riset yang dilakukan
tidak menukik pada kaitan antara konsep filantropis dan konsep
imperialisme dalam wacana imperialisme termutakhir, yakni
“imperialisme berjubah filantropis”. Terlepas dari semua itu, spirit
penelitian dalam membongkar berbagai aspek yang tersembunyi
di balik kampanye anti-rokok yang mengatasnamakan wacana
kesehatan masyarakat patut menjadi pertimbangan kita semua.
Ada kompleksitas persoalan dalam isu tembakau yang tidak
mudah kita reduksi dan sederhanakan dalam logika “hitam-putih”.
Hal penting lainnya ialah bahwa buku ini telah menyumbang suatu
model pembacaan baru tentang gerak-gerik rezim kapitalisme global,
yang tidak hanya bekerja melalui instrumen liberalisasi (deregulasi)
melainkan justru dengan instrumen regulasi. Namun keduanya
ternyata memiliki dampak sama, yaitu terjadinya ekspansi modal dari
negara-negara pusat ke pinggiran dan akumulasi keuntungan dari
negara-negara pinggiran ke pusat.
Jakarta, 17 Februari 2012
DR.Hi.MS.Kaban,SE. M.Si.
vi