Page 5 - Muslihat Kapitalis Global
P. 5
Pengantar
S ecara ekonomi dan politik kita seringkali bersikap kurang
kritis dalam merespon isu anti-rokok, terlebih ketika isu
tersebut diusung mengatasnamakan wacana kesehatan
masyarakat. Isu rokok kemudian disederhanakan dalam dimensi
kesehatan semata. Dan kita serta-merta menganggapnya sebagai
sebuah kebenaran absolut tanpa skeptisme dan nalar kritis. Terlebih
ketika wacana pengetahuan tersebut diklaim ilmiah dan saintifik
sehingga kita menjadi alpa pada keluasan spektrum kebenaran
dimensional lainnya, yaitu ekonomi-politik, sosial dan budaya.
Padahal jika kita masuk lebih mendalam, tampak adanya ambiguitas
atau bahkan keganjilan tersendiri dalam wacana anti-rokok global.
Pasalnya, meski di satu sisi seringkali dikatakan bahwa entitas
tembakau mengandung senyawa karsinogen sebagai penyebab
penyakit kanker, namun di sisi lain tembakau juga disebut memiliki
potensi kandungan protein yang justru sanggup mencegah berbagai
penyakit, termasuk kanker.
Sebagai contoh, Dr. Arief B. Witarto, M.Eng, peneliti dari Pusat
Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
baru-baru ini berhasil menggunakan tembakau sebagai alat untuk
memproduksi protein Growth Colony Stimulating Factor (GCSF).
Suatu hormon penting dalam menstimulasi produksi darah yang
sanggup menstimulasi perbanyakan sel tunas (stem cell) untuk
memulihkan jaringan fungsi tubuh yang sudah rusak (Republika, 24
Juli 2008). Sebelumnya, peneliti LIPI ini juga bekerja sama dengan
peneliti Fraunhofer Institute for Environmental Chemistry and
Ecotoxicology dari Jerman. Dengan menggunakan tembakau
iii
S ecara ekonomi dan politik kita seringkali bersikap kurang
kritis dalam merespon isu anti-rokok, terlebih ketika isu
tersebut diusung mengatasnamakan wacana kesehatan
masyarakat. Isu rokok kemudian disederhanakan dalam dimensi
kesehatan semata. Dan kita serta-merta menganggapnya sebagai
sebuah kebenaran absolut tanpa skeptisme dan nalar kritis. Terlebih
ketika wacana pengetahuan tersebut diklaim ilmiah dan saintifik
sehingga kita menjadi alpa pada keluasan spektrum kebenaran
dimensional lainnya, yaitu ekonomi-politik, sosial dan budaya.
Padahal jika kita masuk lebih mendalam, tampak adanya ambiguitas
atau bahkan keganjilan tersendiri dalam wacana anti-rokok global.
Pasalnya, meski di satu sisi seringkali dikatakan bahwa entitas
tembakau mengandung senyawa karsinogen sebagai penyebab
penyakit kanker, namun di sisi lain tembakau juga disebut memiliki
potensi kandungan protein yang justru sanggup mencegah berbagai
penyakit, termasuk kanker.
Sebagai contoh, Dr. Arief B. Witarto, M.Eng, peneliti dari Pusat
Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
baru-baru ini berhasil menggunakan tembakau sebagai alat untuk
memproduksi protein Growth Colony Stimulating Factor (GCSF).
Suatu hormon penting dalam menstimulasi produksi darah yang
sanggup menstimulasi perbanyakan sel tunas (stem cell) untuk
memulihkan jaringan fungsi tubuh yang sudah rusak (Republika, 24
Juli 2008). Sebelumnya, peneliti LIPI ini juga bekerja sama dengan
peneliti Fraunhofer Institute for Environmental Chemistry and
Ecotoxicology dari Jerman. Dengan menggunakan tembakau
iii