Perempuan Berbicara Kretek
| Penerbit | Indonesia Berdikari |
| ISBN | 978-602-92992-1-8 |
| Tahun | 2012 |
| Fisik | 16 x 23 cm — 330 Halaman |
Ringkasan Literatur
Belakangan, nalar konservatisme kuat mengelayuti kampanye anti rokok, dengan berbagai cara selalu saja disposisi kaum perempuan didudukkan sebagai “korban”. Bahkan, ada upaya-upaya stigmatisasi moral terhadap kaum perempuan merokok. Padahal dalam aspek ketenagakerjaan, sektor industri kretek menyerap tenaga kerja sangat besar. Dari data ILO (2003) ada 10 juta tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya, dan ini sebagian besar adalah kaum perempuan. Di tengah-tengah gejala de-industrrialisasi dan sunset Industry angka 10 juta bukanlah angka kecil. Buku yang berjudul “Perempuan Berbicara Kretek”, yang ditulis oleh para penulis perempuan ini hadir berusaha membuka banyak dimensi perihal korelasi dunia kaum perempuan dengan kretek. Isi buku ini jelas mengemban perspektif dan nilai-nilai kaum perempuan itu sendiri, lebih jauh juga memaparkan ragam informasi dunia kaum perempuan berkaitan dnegan produk kretek, baik itu aspek historis maupun antropologis. (Dita Indah Sari - Aktivis Perempuan dan Perburuan)
Kehadiran perempuan sering ada dan tiada karena tiadanya suara mereka. Isu perempuan dan rokok (kretek), mengundang perdebatan dan kesalahpahaman karena tiadanya kesaksian dari perempuan sendiri. Buku ini menyuarakan seura emansipatoris dari subyek untuk melawan beragam stigma, mitos penindasan berlapis terhadap perempuan. Suara perempuan dalam isu kretek merupakan penegasan sikap yang berjangkar pada klaim kedaulatan serta keberpihakan kepentingan bangsa. Para perempuan nasionalis harus secara konsisten bersuara dan melawan praktik penindasan neoliberalisme sekaligus alam pikir feodal yang patriarkhi. (Eva Kusuma Sundari - Aktivis Perempuan dan Anggota DPR RI F-PDI Perjuangan)
Dalam Khazanah kebudayaan manapun yang menjunjung tinggi harkat manusia, perempuan selalu mendapatkan tempat yang mulia. Dikenal dalam literatur sejarah kita, tembakau adalah lambang pembebasan perempuan, sadar menentukan pilihan pendamping hidupnya.
Sultan Agung sebagai penerus kekuasaan kerajaan Islam di Jawa juga memberikan hak hidup semestinya kepada kaum perempuan. Sekarang ketika kedaulatan atas hak penghidupan kita dicabik-cabik pantaskah para perempuan diam saja? Melalui buku ini dapat kita lihat, bagaimana para perempuan berbicara tentang kretek dan apa yang dialaminya dari kata hati seorang perempuan. (Sarinandhe Djibran - Bendahara Umum DPP Partai Bulan Bintang dan Notaris-PPAT)
Kehadiran perempuan sering ada dan tiada karena tiadanya suara mereka. Isu perempuan dan rokok (kretek), mengundang perdebatan dan kesalahpahaman karena tiadanya kesaksian dari perempuan sendiri. Buku ini menyuarakan seura emansipatoris dari subyek untuk melawan beragam stigma, mitos penindasan berlapis terhadap perempuan. Suara perempuan dalam isu kretek merupakan penegasan sikap yang berjangkar pada klaim kedaulatan serta keberpihakan kepentingan bangsa. Para perempuan nasionalis harus secara konsisten bersuara dan melawan praktik penindasan neoliberalisme sekaligus alam pikir feodal yang patriarkhi. (Eva Kusuma Sundari - Aktivis Perempuan dan Anggota DPR RI F-PDI Perjuangan)
Dalam Khazanah kebudayaan manapun yang menjunjung tinggi harkat manusia, perempuan selalu mendapatkan tempat yang mulia. Dikenal dalam literatur sejarah kita, tembakau adalah lambang pembebasan perempuan, sadar menentukan pilihan pendamping hidupnya.
Sultan Agung sebagai penerus kekuasaan kerajaan Islam di Jawa juga memberikan hak hidup semestinya kepada kaum perempuan. Sekarang ketika kedaulatan atas hak penghidupan kita dicabik-cabik pantaskah para perempuan diam saja? Melalui buku ini dapat kita lihat, bagaimana para perempuan berbicara tentang kretek dan apa yang dialaminya dari kata hati seorang perempuan. (Sarinandhe Djibran - Bendahara Umum DPP Partai Bulan Bintang dan Notaris-PPAT)